London (Are You) Calling (Me?)
Sejak
kecil hingga usia saya kini, ada beberapa keinginan yang belum kesampaian, ada tujuan
yang berubah dan isinya bertambah, namun di tengah semua itu, tetap ada satu
mimpi yang masih kuat mengetuk dan posisinya tidak pernah tergeser.
Menginjakkan
kaki di Inggris.
Mimpi
ini bisa dibilang serupa dengan mimpi tiga teman saya lainnya, meski tujuan
kami berbeda. Arti Inggris buat saya mungkin serupa dengan Italia bagi Namira, Jepang untuk Cesi, dan Perancis di benak Vian.
Bermula
dari cerita-cerita tentang Inggris dan Perancis dari kedua orangtua, yang
secara umum juga menanam pengaruh pesona Benua Biru, semua itu terekam dengan
baik dalam alam bawah sadar saya. Ketika beranjak remaja, film dan musik
menjadi media pendorong sekaligus magnet mimpi ke Inggris tersebut.
Salah
satu yang berperan besar adalah majalah TRAX
edisi liputan yang membahas festival musik. Tersebutlah nama Woodstock, Lollapollozza,
Fuji Rock Festival, Coachella,serta tentunya, Glastonbury Festival. My mind has been glued to Glastonbury ever since.
Inggris
(dan Britania Raya secara keseluruhan) merupakan rumah bagi lebih dari puluhan festival
musik yang digelar sepanjang tahun. Kalender festival musik biasanya dimulai
saat awal musim panas, sekitar bulan Juli, lalu berlanjut hingga menjelang akhir
tahun. Tidak hanya itu, tanah ini juga menjadi tanah kelahiran musisi-musisi
legendaris, baik yang saat ini masih aktif berkarya atau yang tetap berkibar
melalui karya mereka saja (beberapa penyebab: karena sebagian personelnya sudah
tutup usia, band tersebut vakum), juga talenta-talenta baru yang terus
bermunculan.
Contohnya,
pada awal Mei lalu, The Great Escape Festival berlangsung di kota Brighton. Masih
di bulan yang sama, tepatnya minggu ke-3 Mei, baru saja digelar BBC R1 Festival.
Lalu menyusul pada Juni mendatang: Glastonbury. Bulan September, biasanya
menjadi jadwal iTunes Festival. Line up festival tersebut tahun lalu membuat
saya hanya bisa meringis karena terlampau keren dan tiketnya gratis! Vampire Weekend, 30 Seconds to Mars, Arctic Monkeys, Paramore, dan Phoenix adalah beberapa nama yang mengisi iTunes Festival tahun lalu. Selain menikmati pertunjukan musik yang
telah terjadwal, penduduk Inggris juga sewaktu-waktu dapat dikejutkan oleh gig
spesial tak terjadwal, seperti gig “rahasia” Blur di toko rekaman Rough Trade
East, tahun 2009. Momen itu turut terekam dalam “No Distance Left to Run”, film
dokumenter band yang diawaki Damon Albarn, Graham Coxon, Alex James, dan Dave
Rowntree.
| Source: Design Your Trust |
Bicara tentang
Inggris dan musik, tak bisa lepas dari istilah ini: British Invasion. Istilah yang
muncul pertama kali pada pertengahan 1960-an, disebabkan oleh “invasi” musik
The Beatles yang menghipnotis warga Amerika Serikat (kemudian dunia). Perjalanan
waktu menunjukkan The Beatles lebih dari sekadar grup musik. Karya-karya mereka
menginspirasi lahirnya karya seni lain yang tidak terpaku dalam format musik, antara lain film. “Across The Universe” adalah salah satunya. Selain itu, studio
Abbey Road yang mereka gunakan saat rekaman album “Abbey Road” (1969), hingga
kini masih menjadi tempat penting, penanda sejarah. Some of our nation’s band
who had the privilege to record their songs at the studio are GIGI and J-Rocks.
Berpose layaknya John Lennon, Paul McCartney, Ringo Starr, dan George Harrison
di zebra cross di luar studio Abbey Road tentu jadi salah satu kegiatan
yang wajib dicoret dari daftar “apa saja yang harus dilakukan di London”.
Namun,
melebihi keinginan pergi ke Abbey Road, saya sangat ingin pergi ke lokasi
syuting video klip “Chemical World” milik Blur. Video ini mengambil lokasi syuting di sebuah taman luas di Surrey. Saya juga
ingin menikmati taman seperti yang Graham, Damon, Alex, dan Dave tunjukkan di
video ini. Kegiatan yang tidak mungkin saya lakukan di taman sekitar rumah,
selain karena ukurannya lebih sempit, juga kondisinya tidak bersih hehehe. Makanya,
ide foto di bawah ini awalnya meniru scene
Damon yang tiduran di taman. Karena rumput di taman berdampingan dengan sampah-sampah plastik
jajanan, ide tersebut urung saya lakukan.
![]() |
| Mr. Potato, take me to London, will ya? |
Mengunjungi
London di bulan September tentu akan jadi perjalanan yang menyenangkan karena saat
itu sudah memasuki musim gugur. Musim yang belum pernah saya alami secara
langsung (selain musim dingin dan musim semi). What could be better than
exploring London’s streets and tube’s journeys during my most favorite month of
the year? Mengutip sebagian lirik dari lagu milik Stereophonics,
“You’re only in it now, to make more, more, more.”
J
Foto oleh: Monika Anindita


Good luck Erykah!
ReplyDelete