Pemilu 2014
Harusnya tulisan ini sudah dikerjakan Jumat minggu kemarin, itu target yang dibuat untuk diri sendiri, tapi tertunda sampai sekarang. Mari langsung mulai!
Digadang-gadang menjadi tahun politik, jauh sebelum lembaran hari di dalamnya terbuka, tahun 2014 jelas bukan tahun biasa dalam sejarah pemerintahan Indonesia. Pada pemilu yang akan berlangsung dalam dua tahap - legislatif (9 April) dan eksekutif (9 Juli) - mendatang, rakyat Indonesia (baca: kita semua) akan memberikan kepercayaan kepada sekelompok orang baru untuk memimpin republik ini.
Menarik untuk menebak-nebak siapa yang akan menjadi RI-1 pengganti SBY nanti. Ikut deg-degan akan dibawa ke mana arah kebijakan negara ini: apakah akan terjebak di kelompok negara berpendapatan menengah atau siap lepas landas.
Gue sendiri mencatat beberapa hal dari pelaksanaan pemilu kali ini. Waktu pemilu tahun 2009, seingat gue, ketertarikan dan kepedulian gue nggak sebesar sekarang. Mungkin karena saat itu belum paham seberapa penting arti 1 suara dan konsekuensi akan pilihan saat pemilu (memilih secara rasional atau berdasar pertimbangan lain; tidak memilih) ke depannya. Poin dari catatan yang gue sebutkan yaitu:
Iklan Partai Politik (Parpol)
Tahukah kamu jika masa kampanye terbuka untuk pemilu legislatif, berdasar aturan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), berlangsung antara 16 Maret-5 April 2014. Namun, seperti yang mungkin sudah kita semua sadari bersama, beberapa parpol sudah memasang iklannya jauh-jauh hari sebelum masa kampanye terbuka dimulai. Mereka sudah bergerak selangkah lebih maju, dibanding parpol-parpol saingan. Sebagai penonton, tanggapan negatif pasti keluar setelah iklan-iklan yang duluan tampil ini tayang.
Di sisi lain, patut diapresiasi cara beberapa parpol dalam menggarap materi iklan mereka. Ada yang pendekatannya modern, agak ketinggalan zaman (menurut gue), juga ada yang pendekatannya khas-parpol-banget hehehe. Lagi-lagi, ini menurut gue, penilaian subjektif. Iklan-iklan dari partai berlambang banteng, yang nomor urutnya di pemilu 2014 kebetulan sama dengan tanggal lahir gue, mendapat nilai paling bagus! Judging from their TV ads, the Indonesia Democratic Struggle Party (PDIP) is heading toward new direction. Jika di kampanye 2009 (dan beberapa spanduk pinggir jalan, untuk pemilu tahun ini) masih ada sosok Soekarno dalam versi gambar berbayang, di iklan TV-nya jejak itu nggak ada. Kampanye "Indonesia Hebat" mereka pesannya membangun dan fokus ke Indonesia-nya langsung. Semoga kader-kadernya benar-benar berlaku seperti pesan yang disebarkan itu. Oya, dari beberapa versi iklan "Indonesia Hebat", gue suka yang versi: nasi tumpeng - menggambarkan ketergantungan pangan; permainan huruf/kata di baju lima perempuan sebaya.
Tanggapan untuk iklan parpol lain:
PKB - tagline tentang Indonesia di bagian akhir iklan mencuri perhatian;
PKS - lebih baik fokus ke program/nilai yang diyakini partai, bukan figurnya hehehe;
Demokrat - hasil kerja pemerintahan dan kabinet (otomatis bukan Demokrat saja) sebaiknya jangan diklaim milik partai sendirian, meski jumlahnya mayoritas;
Golkar - belum pernah melihat iklannya di luar 3 stasiun TV milik capres yang diusung partai berlambang pohon beringin.
Satu lagi! Masih berhubungan dengan kampanye. Semoga di masa depan, ada aplikasi pemberi informasi caleg dan capres mana yang memasang spanduk di pohon + menempel stiker di tiang listrik, sehingga tindakan mereka itu jadi salah satu pertimbangan waktu memilih. Pilihan kelak akan dijatuhkan kepada mereka yang berkampanye dengan cara tidak menambah polusi, baik polusi fisik maupun polusi visual haha.
Apa kabar konvensi Demokrat?
Waktu semakin dekat menuju pemilu legislatif, dan gaung konvensi calon presiden yang diadakan Partai Demokrat seakan tenggelam, apalagi setelah PDIP mengumumkan Jokowi sebagai capres partai tersebut pada Jumat (14/3). Gue sendiri masih menunggu dan berharap semoga calon presiden yang diajukan PD benar-benar orang yang tepat dan pastinya, telah lolos seluruh tahap konvensi. Keraguan sedikit terselip, karena setelah komite konvensi mengumumkan hasil polling dan survei (survei pertama untuk internal), masih ada opsi yakni keputusan final pemenang konvensi ditentukan Majelis Tinggi Demokrat. As a long-time Gita Wirjawan's admirer (is this a correct word? Haha I hope so. It couldn't be a fan, no?!), I deeply hope he would win the convention. Other than him, it would be Dino Patti Djalal. Ain't a Anies Baswedan's hater, but I think he would perform his best expertise if he had the Minister of Education title up on his shoulder.
Pemberian mandat kepada Jokowi
Di bagian ini gue nggak akan menulis banyak. Mundur sejenak ke tanggal 14 Maret. Sore itu, gue masih berada di kampus, tenang-tenang melihat linimasa Twitter, lalu kemudian membaca twit itu: Jokowi sudah diberi mandat oleh Megawati untuk menjadi calon presiden dari PDIP. Gila, ibarat pertunjukan musik, gue yakin reaksi pengguna Twitter yang orang Indonesia saat itu cuma satu: PECAH. Spekulasi, tebakan, analisa selama ini, akhirnya menemukan jawaban. Gue bukan warga Jakarta, kartu identitas gue bisa membuktikan itu, cuma gue ada di kelompok kecil mereka yang tidak mendukung Jokowi maju sebagai capres. Menurut gue, komitmen Jokowi untuk memimpin Jakarta selama 5 tahun di awal setelah dia terpilih, harus dipenuhi. Ada argumen menarik yang bisa kalian baca di sini, salah satunya: tindakan Jokowi yang tidak menyelesaikan masa kepemimpinannya dapat menjadi preseden buruk, yang bisa diikuti pemimpin daerah lain. Gue tidak membenci Jokowi, gue hanya berpikir mantan wali kota Solo ini lebih baik maju di pemilu 2019. Saat itu, tanggung jawabnya ke warga DKI sudah selesai dan ia akan punya catatan tambahan berisi hasil pengabdian dan pemenuhan janji sewaktu kampanye - yang baik. Masih ada waktu, Pak.
Di pemilu 2019 nanti, gue juga berharap (lagi), Ridwan Kamil - saat ini menjabat Wali Kota Bandung periode 2013-2018 - maju sebagai salah satu capres. Alasannya sederhana, ingin punya presiden yang mengerti tata kota dan arsitektur :D
Buzzer Gita Wirjawan, akhir 2013
Gue awalnya sadar ini karena satu hal: Dochi "Pee Wee Gaskins" (PWG) sempat nge-twit sesuatu yang berbau politik dan reaksi gue: sejak kapan Dochi nge-twit kayak gini?? Kalau nggak salah ingat, di twit itu ada tagar berbau "GW" - singkatan Gita Wirjawan. Gue telusuri tagar itu, sempat melihat-lihat akun Twitter lain yang isinya senada seperti Dochi, dan tak ketinggalan ke akun GW-nya sendiri. Sepertinya tim sukses GW sadar akan kekuatan orang Indonesia di Twitter, maka salah satu pendekatan yang dipilih adalah dengan pemilihan figur-figur yang dianggap berpengaruh (influential). Cukup sering gue lihat twit-twit bernada positif mendukung GW menjelang akhir 2013, tepatnya mulai bulan November. Semakin ke sini, anehnya nihil. Atau mungkin karena buzzer yang masih direkrut nggak gue follow, otomatis gue nggak tau? Hehehe kurang informasi tentang ini. Yang jelas, dari hasil penelusuran waktu itu, gue juga jadi tau blog post tertentu ternyataaaa jadi salah satu bentuk buzzer. Buzzz. Sebelum tau kalau blog post -> promosi produk/jasa/apapun -> (kemungkinan) blogger itu buzzer, gue sempat baca sebuah post tentang Gita. Gara-gara post itu, gue juga berniat menulis topik serupa, cuma argumennya dari sisi gue sendiri. Setelah tau...... buzzz -__-
Masih ada waktu lebih dari seminggu untuk meluangkan waktu melihat profil caleg di situs resmi KPU, situs rekomendasi beberapa LSM (salah satunya Kontras), atau mengukur poin caleg di situs Orang Baik. Selamat menentukan dan memilih!
Digadang-gadang menjadi tahun politik, jauh sebelum lembaran hari di dalamnya terbuka, tahun 2014 jelas bukan tahun biasa dalam sejarah pemerintahan Indonesia. Pada pemilu yang akan berlangsung dalam dua tahap - legislatif (9 April) dan eksekutif (9 Juli) - mendatang, rakyat Indonesia (baca: kita semua) akan memberikan kepercayaan kepada sekelompok orang baru untuk memimpin republik ini.
Menarik untuk menebak-nebak siapa yang akan menjadi RI-1 pengganti SBY nanti. Ikut deg-degan akan dibawa ke mana arah kebijakan negara ini: apakah akan terjebak di kelompok negara berpendapatan menengah atau siap lepas landas.
Gue sendiri mencatat beberapa hal dari pelaksanaan pemilu kali ini. Waktu pemilu tahun 2009, seingat gue, ketertarikan dan kepedulian gue nggak sebesar sekarang. Mungkin karena saat itu belum paham seberapa penting arti 1 suara dan konsekuensi akan pilihan saat pemilu (memilih secara rasional atau berdasar pertimbangan lain; tidak memilih) ke depannya. Poin dari catatan yang gue sebutkan yaitu:
Iklan Partai Politik (Parpol)
Tahukah kamu jika masa kampanye terbuka untuk pemilu legislatif, berdasar aturan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), berlangsung antara 16 Maret-5 April 2014. Namun, seperti yang mungkin sudah kita semua sadari bersama, beberapa parpol sudah memasang iklannya jauh-jauh hari sebelum masa kampanye terbuka dimulai. Mereka sudah bergerak selangkah lebih maju, dibanding parpol-parpol saingan. Sebagai penonton, tanggapan negatif pasti keluar setelah iklan-iklan yang duluan tampil ini tayang.
Di sisi lain, patut diapresiasi cara beberapa parpol dalam menggarap materi iklan mereka. Ada yang pendekatannya modern, agak ketinggalan zaman (menurut gue), juga ada yang pendekatannya khas-parpol-banget hehehe. Lagi-lagi, ini menurut gue, penilaian subjektif. Iklan-iklan dari partai berlambang banteng, yang nomor urutnya di pemilu 2014 kebetulan sama dengan tanggal lahir gue, mendapat nilai paling bagus! Judging from their TV ads, the Indonesia Democratic Struggle Party (PDIP) is heading toward new direction. Jika di kampanye 2009 (dan beberapa spanduk pinggir jalan, untuk pemilu tahun ini) masih ada sosok Soekarno dalam versi gambar berbayang, di iklan TV-nya jejak itu nggak ada. Kampanye "Indonesia Hebat" mereka pesannya membangun dan fokus ke Indonesia-nya langsung. Semoga kader-kadernya benar-benar berlaku seperti pesan yang disebarkan itu. Oya, dari beberapa versi iklan "Indonesia Hebat", gue suka yang versi: nasi tumpeng - menggambarkan ketergantungan pangan; permainan huruf/kata di baju lima perempuan sebaya.
Tanggapan untuk iklan parpol lain:
PKB - tagline tentang Indonesia di bagian akhir iklan mencuri perhatian;
PKS - lebih baik fokus ke program/nilai yang diyakini partai, bukan figurnya hehehe;
Demokrat - hasil kerja pemerintahan dan kabinet (otomatis bukan Demokrat saja) sebaiknya jangan diklaim milik partai sendirian, meski jumlahnya mayoritas;
Golkar - belum pernah melihat iklannya di luar 3 stasiun TV milik capres yang diusung partai berlambang pohon beringin.
Satu lagi! Masih berhubungan dengan kampanye. Semoga di masa depan, ada aplikasi pemberi informasi caleg dan capres mana yang memasang spanduk di pohon + menempel stiker di tiang listrik, sehingga tindakan mereka itu jadi salah satu pertimbangan waktu memilih. Pilihan kelak akan dijatuhkan kepada mereka yang berkampanye dengan cara tidak menambah polusi, baik polusi fisik maupun polusi visual haha.
Apa kabar konvensi Demokrat?
Waktu semakin dekat menuju pemilu legislatif, dan gaung konvensi calon presiden yang diadakan Partai Demokrat seakan tenggelam, apalagi setelah PDIP mengumumkan Jokowi sebagai capres partai tersebut pada Jumat (14/3). Gue sendiri masih menunggu dan berharap semoga calon presiden yang diajukan PD benar-benar orang yang tepat dan pastinya, telah lolos seluruh tahap konvensi. Keraguan sedikit terselip, karena setelah komite konvensi mengumumkan hasil polling dan survei (survei pertama untuk internal), masih ada opsi yakni keputusan final pemenang konvensi ditentukan Majelis Tinggi Demokrat. As a long-time Gita Wirjawan's admirer (is this a correct word? Haha I hope so. It couldn't be a fan, no?!), I deeply hope he would win the convention. Other than him, it would be Dino Patti Djalal. Ain't a Anies Baswedan's hater, but I think he would perform his best expertise if he had the Minister of Education title up on his shoulder.
Pemberian mandat kepada Jokowi
Di bagian ini gue nggak akan menulis banyak. Mundur sejenak ke tanggal 14 Maret. Sore itu, gue masih berada di kampus, tenang-tenang melihat linimasa Twitter, lalu kemudian membaca twit itu: Jokowi sudah diberi mandat oleh Megawati untuk menjadi calon presiden dari PDIP. Gila, ibarat pertunjukan musik, gue yakin reaksi pengguna Twitter yang orang Indonesia saat itu cuma satu: PECAH. Spekulasi, tebakan, analisa selama ini, akhirnya menemukan jawaban. Gue bukan warga Jakarta, kartu identitas gue bisa membuktikan itu, cuma gue ada di kelompok kecil mereka yang tidak mendukung Jokowi maju sebagai capres. Menurut gue, komitmen Jokowi untuk memimpin Jakarta selama 5 tahun di awal setelah dia terpilih, harus dipenuhi. Ada argumen menarik yang bisa kalian baca di sini, salah satunya: tindakan Jokowi yang tidak menyelesaikan masa kepemimpinannya dapat menjadi preseden buruk, yang bisa diikuti pemimpin daerah lain. Gue tidak membenci Jokowi, gue hanya berpikir mantan wali kota Solo ini lebih baik maju di pemilu 2019. Saat itu, tanggung jawabnya ke warga DKI sudah selesai dan ia akan punya catatan tambahan berisi hasil pengabdian dan pemenuhan janji sewaktu kampanye - yang baik. Masih ada waktu, Pak.
Di pemilu 2019 nanti, gue juga berharap (lagi), Ridwan Kamil - saat ini menjabat Wali Kota Bandung periode 2013-2018 - maju sebagai salah satu capres. Alasannya sederhana, ingin punya presiden yang mengerti tata kota dan arsitektur :D
Buzzer Gita Wirjawan, akhir 2013
Gue awalnya sadar ini karena satu hal: Dochi "Pee Wee Gaskins" (PWG) sempat nge-twit sesuatu yang berbau politik dan reaksi gue: sejak kapan Dochi nge-twit kayak gini?? Kalau nggak salah ingat, di twit itu ada tagar berbau "GW" - singkatan Gita Wirjawan. Gue telusuri tagar itu, sempat melihat-lihat akun Twitter lain yang isinya senada seperti Dochi, dan tak ketinggalan ke akun GW-nya sendiri. Sepertinya tim sukses GW sadar akan kekuatan orang Indonesia di Twitter, maka salah satu pendekatan yang dipilih adalah dengan pemilihan figur-figur yang dianggap berpengaruh (influential). Cukup sering gue lihat twit-twit bernada positif mendukung GW menjelang akhir 2013, tepatnya mulai bulan November. Semakin ke sini, anehnya nihil. Atau mungkin karena buzzer yang masih direkrut nggak gue follow, otomatis gue nggak tau? Hehehe kurang informasi tentang ini. Yang jelas, dari hasil penelusuran waktu itu, gue juga jadi tau blog post tertentu ternyataaaa jadi salah satu bentuk buzzer. Buzzz. Sebelum tau kalau blog post -> promosi produk/jasa/apapun -> (kemungkinan) blogger itu buzzer, gue sempat baca sebuah post tentang Gita. Gara-gara post itu, gue juga berniat menulis topik serupa, cuma argumennya dari sisi gue sendiri. Setelah tau...... buzzz -__-
Masih ada waktu lebih dari seminggu untuk meluangkan waktu melihat profil caleg di situs resmi KPU, situs rekomendasi beberapa LSM (salah satunya Kontras), atau mengukur poin caleg di situs Orang Baik. Selamat menentukan dan memilih!

Comments
Post a Comment
What are you thinking? Tell it to me!