3 1/2

"Masuknya susah kenapa keluar cepet-cepet," seloroh salah satu dosen penguji proposal skripsi, pertengahan Agustus 2013. 

Dari sekian banyak omongan beliau hari itu, kalimat yang diucapkan justru setelah kami -para mahasiswa- selesai sidang itu salah satu yang paling gue inget. (pusing ga baca kata "itu"-nya? Semoga nggak haha) 

Ingatan langsung terputar kembali ke masa awal kuliah. Pas awal kuliah, tepatnya sejak semester tiga, kami (temen-temen kuliah dan gue) sengaja ngambil mata kuliah anak atas (alias senior) yang udah bisa diambil, bareng-bareng. 

Alasannya nggak lain karena kami memang memenuhi syarat jadi bisa ngambil dan juga.... 

"Biar cepet lulus," pikir gue (dan kemungkinan besar yang lainnya juga begitu.)

Waktu itu, bahkan sampai semester 6 kemarin, nggak terlalu ada perbedaan besar antara yang udah ngambil mata kuliah duluan dibanding mereka yang ngambil mata kuliah sesuai jalur buku panduan. Begitu berhadapan dengan semester 7 (saat ini!) baru kerasa....

Yang udah nggak punya tanggungan mata kuliah dan selama libur kemarin sempat magang, perjuangan fase akhir dari masa perkuliahan tinggal laporan kerja magang dan skripsi... Juga sidang yang menyertai keduanya, berpasangan: laporan magang-sidang magang + skripsi-sidang skripsi. Sementara buat yang masih punya tanggungan mata kuliah, masih rutin pergi ke kampus biru meski jadwalnya nggak sepadat semester-semester lalu. 

Perbedaan besarnya apa? Salah satunya, nggak bisa ketemu dan ngobrol sama mereka yang biasanya pasti selalu ditemui Senin-Jumat. Yang lain, semakin merasa dekat ke akhir tahun........ dan akhir kuliah. Nggak kebayang waktu tiga tahun ternyata cepet banget terus tau-tau udah mau lulus. 

Belum mau beranjak pergi, tapi gimana pun selalu begini siklusnya. Waktu SMP pengen cepet-cepet SMA, pas udah ngerasain rok abu-abu (dan rok taplak meja! lebih berwarna biarpun variasinya hijau-putih, nggak kayak pelangi) pengen jadi anak kuliahan, dan begitu seterusnya.

Sebelumnya nggak pernah berambisi (ga nemu padanan kata selain ini) untuk lulus tiga setengah tahun. Cuma pengen segera lulus... Di sisi lain, ada orang yang ingin sekali lulus dalam tiga setengah tahun. Sementara dulu, orang bisa lama-lama kuliah melebihi batas tepat waktu kelulusan mereka. Apa karena angkatan kerja yang lulus tiap tahunnya pasti bertambah makanya sekarang pasang target 3 1/2 itu hal yang rasional (dan wajar)? Atau karena lingkungan kampus saat ini dipandang nggak memberi keleluasaan/memenuhi harapan semula makanya penghuninya ingin cepat-cepat keluar? Terlalu menyalahkan institusi, malah kalo begitu, harusnya calon penghuni mampu memilih dan mengukur "tempat baru" yang kira-kira mampu memenuhi harapannya. Dua kalimat sebelum ini sebenernya mau dihapus soalnya gue yang nulis aja berasa ribet..... apalagi yang baca. Tapi dengan nggak menghapusnya, jadi ketauan pertanyaan lain yang terlintas di otak. 

Apapun itu, semoga Dia tetap bersama seluruh mahasiswa tingkat akhir, khususnya mahasiswa ilmu komunikasi kampus biru angkatan 2010.

Comments

Popular Posts