Kutunggu Kurbanmu

Poster PKPU di Semarang. Sumber gambar dari sini.

Selamat hari raya Idul Adha bagi teman-teman yang merayakan! Harusnya cerita ini di-post dari minggu kemarin biar jadi nggak basi, tapi apa daya. Kemarin malam udah mau ngetik tiba-tiba terpotong karena ada distraksi hahaha. 

Nggak mau panjang-panjang, cuma mau bilang kalau gue selalu senang setiap melihat baliho PKPU (Pos Keadilan Peduli Umat) untuk Idul Adha tahun ini. Gambar di atas diambil dari Google, baliho kece itu dipasang di Semarang. Di sekitar Tangerang sendiri, baliho serupa mudah ditemukan di dekat penanda masuk kompleks Vila Serpong, sebelum Vila Melati Mas (dari arah BSD), letaknya bersampingan dengan pangkalan ojek (kurang lengkap apa coba keterangannya). 

Baru sekali ini gue melihat baliho dari sebuah lembaga keagamaan yang nggak kuno dan bersifat sangat pop. Yang gue amati, format poster atau baliho dengan ajakan untuk berzakat, berinfaq dan bersedekah, biasanya seperti ini: 

Artis atau figur publik yang terkenal di mata masyarakat (atau ustadz bereputasi baik & punya track record lurus) + ajakan untuk melakukan perbuatan baik (zakat, infaq atau sedekah, atau kurban) + nomor rekening lembaga tersebut + alamat lembaga + nomor telepon lembaga

Tambahan lagi, background poster atau baliho itu berwarna putih.

Gue sangat mengharapkan, poster-poster ajakan berbuat baik di masa mendatang, membawa semangat kebaruan seperti poster PKPU di atas. Selain sifatnya fresh, desain yang berbeda akan membuat orang sadar akan keberadaan medium iklan tersebut. Setelah sadar, tertarik, harapannya orang akan berbuat sesuatu yang lebih jauh dan nyata (baca: berkurban lewat PKPU dalam konteks ini).

Baliho "Kutunggu Qurbanmu" itu langsung mengingatkan gue akan ilustrasi "kutunggu jandamu" yang biasanya terdapat di bagian belakang truk-truk antarkota antar-provinsi. Dangdut banget nggak sih? Hahaha. Lalu, gue memang bukan ahli desain, tapi gue jelas ngerti jenis font yang digunakan untuk tulisan "Kutunggu Qurbanmu" itu KECE. Berat. Bentuk font yang meliuk ditambah gaya model pria dalam baliho merupakan paduan pas. Kayak makan roti bakar selai kacang terus minumnya susu coklat hangat.

Terus, sapi-sapinya. Nggak berlebihan, cuma empat ekor. Kalau jumlahnya kurang dari itu, akan ada ruang kosong. Kalau jumlahnya lebih, kesannya penuh banget. Soal plang kuning yang jadi papan informasi harga hewan kurban, nggak ada yang bisa dikomentarin. Tulisannya besar, jelas, jadi orang nggak perlu repot cari info ke pihak lain mengenai harga hewan kurban. Info lain mengenai alamat, nomor telepon, dan pesan tambahan dari PKPU juga sesuai porsi.

Baliho ini terhitung royal dan nggak pelit mengeluarkan modal untuk mengajak masyarakat berkurban demi membantu sesama yang kekurangan. Ukurannya besar, nggak cuma spanduk persegi panjang horizontal.

Jadi, selamat untuk PKPU atas desain balihonya yang ciamik kali ini. Semoga cara lembaga ini yang sedikit menerobos pakem desain baliho keagamaan dapat diikuti oleh lembaga sejenis lain, tidak hanya lembaga keagamaan tapi juga lembaga sosial. Tentu tanpa adanya duplikasi ide.

Comments

Popular Posts