Telur dan Garam

HALO! Kangen juga deh sama blog sendiri, setelah (lagi-lagi) untuk kesekian kalinya gue telantarkan muahaha *peace out*. Cerita kali ini sebenernya simpel, sangat simpel malahan. Tapi gue kepikiran aja untuk cerita disini :)

Bermula dari kejadian pagi ini waktu gue bikin sarapan. Sebagai mahasiswi yang memanfaatkan jatah hari liburnya dengan baik (yup, gue sedang dalam libur semester yang sangat panjaaaaang sekarang. Sampe pertengahan September loh!), gue bangun siang. Otomatis jam makan pagi juga mundur dong. Nggak ada makanan tersisa di rumah, gue memutuskan untuk membuat telur dadar + keju sebagai pendamping nasi putih (sebenernya pengen mie goreng, tapi lagi nggak ada stok hiks.). Telur dadar yang gue buat tadi pagi itu berjumlah dua: 1 untuk gue + 1 untuk Mama (nyokap gue). Telur untuk Mama gue buatin duluan, sementara jatah gue sendiri dibuat terakhir.

Selesai dengan urusan menggoreng telur, gue akhirnya sarapan bareng Mama. Masing-masing dari kami sibuk mengunyah sambil sesekali ngobrol, sampe gue akhirnya sadar klo telur punya gue rasanya.................. hambar. Ini beneran gue yang kelewat skip dan tolol karena telur Mama pas gue tanya rasanya kayak gimana, dia jawab enak. HAHAHA! *toyor dahi sendiri*

Jujur, gue sendiri nggak ngerti kenapa gue sampe lupa masukkin garam ke adonan telur, padahal parutan kejunya nggak ketinggalan......... Kejadian simpel tersebut membuat gue sadar bahwa sama seperti telur yang hambar rasanya tanpa garam, begitu pun hidup jadi datar jalannya (alias tidak bermakna) klo nggak ada yang namanya masalah, kegagalan, atau kehilangan. Coba perhatiin deh, dalam dunia masak memasak, garam selalu jadi elemen penting. Biarpun jumlahnya nggak seberapa (biasanya hanya dalam satuan sendok teh), garam selalu disertakan karena kecanggihannya dalam membuat rasa masakan jadi gurih dan pas.

Kembali ke topik tentang hidup, gue juga semakin yakin bahwa semua kejadian yang ada dalam hidup memang punya porsi dan alasan masing-masing kenapa sampai akhirnya bisa terjadi hehe. Ada beberapa kejadian yang nggak bisa kita cegah dan seiring berjalannya waktu kita belajar untuk menerima hikmah dari kejadian tersebut. Entah masalah, halangan, kegagalan, atau batu sandungan lain yang ada dalam hidup, mereka semua punya sifat layaknya garam. Tanpa segala ujian tadi, hidup lo nggak akan berasa 'hidup' karena cuma segitu-gitu aja, stuck di tempat, nggak gerak kemana-mana. Tapi klo ujiannya kebanyakan, lo akan merasa muak dan capek sama hidup itu sendiri. Sama seperti makanan klo mengandung garam terlalu banyak malah bikin eneg dan jadi nggak niat untuk makan. Jadi, seperti udah gue tulis di awal paragraf ini (klo lo beneran menyimak pasti sadar! Fufufu), memang semua udah punya bagian masing-masing: berapa besar, kapan datangnya, untuk siapa, dsb.

Eits gue malah jadi sok bijak gini hahaha -__- yang pasti, ada satu statement positif yang gue denger dari radio dan ada hubungannya tentang topik ini, terus gue rasa lo semua harus tau, makanya gue jadiin penutup tulisan ini!

Klo lo ngerasa lagi diterpa banyak masalah, lo harus bersyukur. Itu artinya lo sedang diuji. Masa mau terus berdiam di kelas yang sama? ;)

Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Numpang komentar, ya! (udah kayak politikus aja gw, bisanya komentar mulu! Hehehehe...)

    Analogi lo bagus, ya. Telur dan garam. Mungkin sama kayak cerita yang pernah gw denger. Gimana seseorang yang menyemplungkan segenggam garam ke dalam danau dan ke dalam segelas air.

    Udah pasti danau yang isi airnya segitu banyak ga bakal jadi asin cuma karena garam segenggam. Beda banget sama air yang cuma segelas dan dimasukkin garam segenggam, udah pasti asinnya bikin mumet.


    Intinya, dalam menghadapi masalah hati dan fikiran kita harus seperti danau, luas dan mampu mengalahkan rasa garam. Jangan sempit seperti gelas yang bikin kita bisa muntah gara-gara terlalu asin.

    Masalah itu penting dalam hidup. Karena mereka membuat kita semakin berfikir dan menyadari semuanya. Dan menurut buku yang gw baca (no SARA), Allah ga akan memberikan hikmah dan pengetahuan di atas piring emas yang bertakhtakan berlian, melainkan dalam sebuah inti masalah yang sangat sulit.


    Maaf, ya kalo bahasa gw ngaco. Maklum, namanya juga anak manajemen, hahahaha... Maaf juga ga ada buku sumber, apalagi daftar pustaka. :p keep posting, sist! Kapan-kapan jangan lupa main ke lapak ane. Thx!

    ReplyDelete
  3. Halo Kak Yudi! Gapapa ngasih komentar terus, santai hahaha. Makasih buat komennya fufufu. Gue setuju sama apa yang lo bilang, terus analogi soal danau & gelas itu kayaknya musti diinget jadi waktu menghadapi masalah kita bersikap seperti danau, bukan gelas. Hehehe

    ReplyDelete
  4. Santai kayak anak pantai, ya? Hahahaha... Kalo banyak duit gw bisa santai, deh! :p Sip, asal ada tulisan yang model beginian tangan gw gatel untuk ngetik komen, hehehehe...

    ReplyDelete

Post a Comment

What are you thinking? Tell it to me!

Popular Posts